REFLECTION FOR CANCER PATIENTS

August 23, 2007 at 10:03 pm | Posted in Sharing On-line Sahabat CISC | 2 Comments
Tags:

Menerima vonis kanker bagi penderita tidaklah mudah. Memutuskan terapi yang akan dijalani dapat membuat seseorang kebingungan. Menjalani terapi dengan beberapa efek samping yang mengganggu juga mampu merapuhkan emosi seseorang. Kerapuhan emosi dalam wujud sedih tak berkesudahan, kekuatiran, depresi, susah tidur, pola makan kacau, mudah tersinggung, mudah marah, merasa tak berguna, dan menarik diri menjadi ciri yang acap dijumpai.

Kondisi psikis yang tidak menentu tersebut dapat mengganggu relasi dengan orang lain di sekitarnya. Keluarga, sahabat, teman dan lain lain. Orang lain akan lebih berhati-hati dalam bertutur sapa, bersikap dan berelasi dengan penderita kanker yang masih goyah emosinya. Kehati-hatian biasanya dimaksudkan sebagai bentuk empati dan tidak ingin memberikan beban lebih pada penderita kanker. Terkadang, kehati-hatian bergeser menjadi perilaku memanjakan dan lebih banyak mengalah.

Apakah perilaku memanjakan dan cenderung menuruti keinginan penderita adalah yang terbaik? Silakan posting opini, pengalaman dan sikap Anda dalam masalah ini.

Berbagai terapi kanker berupa kemoterapi, radioterapi, operasi dan imunoterapi tidaklah bebas resiko. Pasca operasi payudara berupa BCT (breast conserving therapy) atau mastektomi akan mengurangi kesempurnaan fungsi payudara. Terlebih jika dibarengi dengan pengambilan kelenjar getah bening di ketiak yang akan membatasi keleluasaan gerak tangan di sisi operasi. Kemungkinan rusaknya jaringan sehat di sekitar area radioterapi juga mesti di pertimbangkan. Berkurangnya reaksi berpikir dan mengingat akibat dari kemoterapi dan obat-obatan lain yang diminum tidaklah dapat diabaikan begitu saja. Berkurangnya kemampuan fisik pasca terapi kanker membutuhkan pengertian dari lingkungan terdekat penderita dan mantan penderita kanker. Penderita perlu mengkomunikasikan keterbatasan fisik dan perasaannya secara terbuka dan hati hati ke pada lingkungan terdekatnya. Bukan untuk dikasihani dan minta perhatian lebih, namun lebih agar dimengerti untuk menghindari hal-hal negatif lain yang mungkin akan timbul di masa mendatang.

By Yuniko Deviana

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Pasien kanker boleh manja dan cengeng! No way!!! Orang-orang di dekat kita jauh lebih menderita daripada kita (penderita). Apa untungnya dengan memposisikan diri sebagai pesakitan? Emang udah sakit, jangan ditambah dengan menyakiti diri sendiri. Semakin sakit!Sakit mesti dilawan…dengan hal-hal yang positif!! Kalau urusan “kanker mematikan” pasrahkan saja sama yang menghidupkan dan mematikan kita!!! Kena kanker atau tidak, toh semua yang hidup akan mati.He-he-he berdasarkan pengalaman gw begitu….

  2. Gw lebih senang orang-orang di sekitar gw menganggap sakit gw biasa-biasa aja. Pengobatan kanker itu panjang lho… gak bosen apa diperlakukan kayak anak kecil??? Gw pernah berangkat kemo sendiri berdua anak gw. Oke aja tuh….he-he-he… Sakit kalo gak dirasain lebih cepet sehatnya lho…cobain aja kalo gak percaya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: