JANGAN MARAH, TAPI BERSYUKURLAH

March 25, 2008 at 2:34 pm | Posted in KIRIM ARTIKEL | 3 Comments
Tags:

CISC (Cancer Information & Support Center) adalah komunitas survivor kanker dan keluarga serta relawan kanker yang berpusat di Jakarta. Secara rutin sejak 5 tahun yang lalu CISC mengadakan sesi support group 2 kali sebulan yang menjadi wadah saling berbagi rasa, menyemangati dan berbagi informasi.

 “JANGAN MARAH, TAPI BERSYUKURLAH”  merupakan tema pertemuan hari Jumat tanggal 14 Maret 2008. Zuriati, survivor kanker payudara sebagai pembawa acara mengatakan bahwa kegoncangan psikis menghadapi kanker dalam bentuk kemarahan sering dijumpai pada penderita kanker dan keluarga. Kemarahan harus dikendalikan karena dapat merusak hubungan baik dengan orang lain dan merugikan diri sendiri. Kemarahan berlebihan pada penderita kanker yang sedang menjalani terapi dapat mempengaruhi efektifitas pengobatan. Seperti biasa, pertemuan diisi dengan sharing para peserta seputar tema. Lidya membagikan pengalamannya ketika menjalani kemoterapi terakhir 1 bulan yang lalu. Ternyata, katanya,  keiklasan dan rasa syukur dapat mengurangi munculnya kemarahan. Peserta yang lain membagikan pengalamannya ketika sempat marah pada Tuhan karena sakit kanker berdampak panjang pada hidupnya. Dalam sesi tersebut sangat terasa kedekatan dan perasaan senasib satu sama lain sebagai satu keluarga CISC.  Di akhir pertemuan, menanggapi pertanyaan Sri, salah seorang anggota CISC yang juga survivor, Yuniko mengatakan bahwa ada 4 langkah mengendalikan emosi agar muncullah hanya marah yang cerdas. Pertama, marah adalah emosi manusiawi yang tidak perlu diingkari tapi harus disadari dan dirasakan. Kedua, renungkan dan pikirkan agar wujud marah muncul secara positif, wajar dan proporsional sehingga tidak ada penyesalan sesudahnya. Ketiga, pahami bahwa orang lain juga memiliki perasaan dan latar belakang yang berbeda. Perlu empati pada orang lain agar emosi diri dapat dikendalikan. Yang keempat adalah bahwa kita perlu menjaga hubungan baik dengan orang lain, dan mensyukuri keberadaan orang lain di sekitar kita. Hidup nyaman dengan kanker, 1 musuh terlalu banyak 1000 teman masih kurang. Salam CISC (yd)

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Setujuuuuuu dengan pendapat mba Yuniko! Tapi ada satu hal yang secara manusiawi perlu disadari bahwa MARAH adalah suatu bentuk pertahanan diri. Dari buku-buku psikology yang daku baca….terutama untuk penderita kanker, hal positif dari kemarahan adalah sebuah benteng untuk bertahan hidup.Begitulah kira-kira….he-he-he….asal jangan keterusan marahnya!!! Emang kalo marah terus kankernya pergi??? Kalo ketawa n kankernya pergi ada tuh ceritanya!!! Silahkan baca buku “secret”. Bagussss….

  2. sekarang kanker bukan momok lagi, saya juga suvive dari kanker di kista yg sudah diangkat 26 januari 2013 lalu, skr saya bertahan dgn obat herbal yg terbukti sangat ampuh dan sudah teruji secara klinis di lab UGM dan RS Dharmais Jakarta…..sekarang Puji Tuhan pemeriksaan darah CEA dan CA saya sudah mendekati normal…..PUJI TUHAN…

    • Ya betul dan perlu diingat herbal dan lain-lain suplemen adalah sebagai penunjang terapi untuk meningkatkan anti body, setelah terapi utama Medis dilakukan.
      terimakasih dan salam sehat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: