Dilema Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) Pasien Kanker

January 9, 2009 at 9:41 am | Posted in O P I N I | 1 Comment

Kira-kira sebulan yang lalu, temanku Tina dirawat di UGD rumah sakit kanker. Keluhannya adalah sesak nafas, sakit kepala yang teramat hebat dan muntah-muntah. Dengan kondisi lemah ia diminta untuk dirawat inap, yang tentu saja di iyakan oleh keluarga yang menginginkan penanganan terbaik untuknya. Sayangnya, kamar perawatan kelas 3 untuk pasien dengan jaminan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) penuh sehingga ia harus dirujuk ke RS lain.

 

Melihat kondisi Tina yang lemah, keluarga dan teman-temannya berupaya untuk mencari alternatif lain. Ternyata, masih ada tempat kosong kelas 3 di RS tadi tapi bukan untuk pasien SKTM, dengan tarif sedikit lebih mahal dan harus dibayar sendiri. Ada teman yang bersedia menanggung beaya ketika berada di kamar non SKTM tadi.  Keluarga menyetujui dengan pemikiran bahwa untuk sementara biarlah di kamar dengan bayar sendiri, dan jika di kamar SKTM telah ada tempat kosong langsung pindah ke sana.

 

Sayang seribu sayang, itu tidak bisa terlaksana. Ternyata, sekali pasien SKTM menggunakan fasilitas di atasnya, secara otomatis SKTM gugur untuk selama-lamanya. Alamak… masalah lain lagi deh. Berat sekali untuk keluarga menghadapi dilema seperti itu. Terpaksa, perburuan mencari kamar di RS lain harus dilakukan dengan kondisi pasien yang lemah.

 

Seandainya aturan SKTM gugur selama-lamanya untuk kondisi tersebut tidak ada akan ada beberapa pihak yang terpuaskan. Pertama, pasien mendapatkan tempat perawatan dengan cepat yang berarti mengurangi ketidaknyamanan dan penderitaannya. Kedua, dari segi beaya, peran serta masyarakat dalam hal ini yang bersedia membantu pembiayaan singkat akan mengurangi beban pemerintah melalui fasilitas SKTM. Ketiga, reputasi pelayanan RS juga akan meningkat karena tidak terjadi kelambatan penanganan dan penolakan pasien karena ketiadaan tempat. Entahlah, atas dasar pertimbangan apa aturan tersebut diberlakukan.

 

Dua hari yang lalu, Tina telah berpulang. Semoga pengalaman kecil ini bisa menjadi perhatian berbagai pihak untuk perbaikan pelayanan kanker di masa mendatang.

 

Salam CISC

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Mengenang Mbak Tina, seorang pejuang pehidupan, seperti puisi yang ku bacakan tadi. Aaah kemenangan festival kehidupan ini tlah kau genggam mbak. Ku ingat beberapa tahun yang lalu, di ruangan CISC di RS Darmais, “Lid, ini rontgen paru ku, tolong diliatin, ndak biasanya di ceklek begini,” katamu. Aku tertegun melihat ada 2 coin sign di rontgen paru mu.pertanda ada metastase paru. Melihat aku tertegun, dan mencari2 mbak sri, engakau malah menguatkanku untuk mengatakan sejujurnya. Kekuatanmu mbak, mengagumkan. kau jalani hari2 panjang dengan senyum ikhlas. masih kuat ikut pertemuan CISC di Bandung, jalan santai di Monas, masih beri support pasien2 lain, dll. SKTM mu tak menyurutkan semangatmu, bahkan tak membuatmu kesal ataupun mengomel. Paling kau hanya bilang, “Lid, aku kesana-sini dulu ya minta stempel ini dan itu.” Selamat jalan Mbak,maaf kalau aku tak melihatmu,mungkin teman2 takut kalau aku ndak kuat jadi aku tidak diberitahu tentang kepulanganmu. Maaf ya aku tidak mengomentari SKTM-nya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: