Terima Kasih Tuhan

August 15, 2009 at 8:49 pm | Posted in Doa & Inspirasi: Puisi - wiseword | 1 Comment

Tujuh tahun yang lalu benih kehidupan mulai terbentuk. Laksana tunas pohon kecil yang mulai menyembul ke permukaan tanah, CISC terbentuk di Jakarta. Masih belia, lemah, dan rentan namun tetap berupaya keras mencari arah sinar matahari.  Support Group Kanker CISC adalah pohon kehidupan. Perasaan senasib, kesamaan problem dan keinginan berharap dan melakukan yang terbaiklah yang memintal di segenap fase tumbuh kembangnya pohon. Membuat pohon menjadi liat, bandel, tak roboh di terpa angin kencang dan banjir. Semangat kebersamaan melapisi dan membentengi segenap permukaan sehingga mampu bertahan di situasi sulit.

Terima kasih Tuhan, karena berkatmu pohon kami terus berkembang hingga hari ini. Sesekali terpaan angin teramat kencang menggugurkan helaian daun-daun yang hampir rimbun. Melayang-layang di udara, jatuh, mencoba tetap terbang walau rendah sampai akhirnya diam…dan layu… kemudian kering. Tapi, kami tahu di ujung dahan-dahan muda, terus bertunas cabang-cabang, daun-daun dan bakal bunga yang tetap membuat pohon tumbuh. Tumbuh dan tumbuh semakin rindang… sehingga mampu menaungi manusia-manusia yang rindu tempat berteduh, mengaso sejenak atau boleh tertidur sejenak di bawahnya. Melalui desir angin, kami bisikkan optimisme, semangat dan harapan  pada semua orang yang sempat mampir.

Akar-akar pohon kami akan tetap bergerak ke bawah dan ke samping. Mencengkeram dengan kuat apapun yang dijumpainya di sana. Kami yakin akar kami akan semakin besar, panjang dan kuat. Dan mampu menunjang pohon yang semakin besar dan lebar. Tak jarang, panas teriknya kemarau membuat pohon kami kehausan dan pertumbuhan melambat. Pohon kami berusaha tidak menggugurkan daun kalau memang belum waktunya. Pohon memilih untuk sejenak berdiam dan tidak bertunas. Karena Engkau maha baik, pohon kami tidak mati. Kau berikan kekuatan sehingga kami kuat, tak gentar, tak mudah menyerah dan memilih tetap bertahan di segala suasana.

Sesekali benalu mencoba bercokol. Namun selalu ada tangan-tangan yang menyisir dan menyingkirkannya dengan hati-hati. Kau kirim insan-insan yang mau menyirami pohon kami. Sisa sisa air minum di botol dituangkan ke sekitar akar pohon yang sedang kehausan. Tangan-tangan dermawan menyirami pohon dengan kasih dan tidak rela pohon mati kemudian lenyap. Tak ada yang ditolaknya…bahkan semburan urine dari orang yang sedang lewatpun membuatnya mampu tetap bertahan bahkan mungkin membuatnya semakin subur.

Tanah yang tak subur, udara penuh polusi dan terpaan angin kencang yang leluasa mencoba memporakporandakan menempa pohon menjadi semakin perkasa. Guratan kasar di kulit batang pohon seakan menandai dalamnya kebijakan dan luasnya pengetahuan. Telah banyak orang mampu memaknai dan memanfaatkannya.

Terkadang kami  merasa tumbuh di batu-batu karang yang gersang. Ketika ada ranting yang patah atau dipatahkan, kami tetap berharap. Pasti akan tumbuh ranting-ranting baru. Dan itu benar adanya. Dalam banyak kesempatan, kami merasa bak pohon rindang di padang pasir di mana banyak orang berlalu lalang mencari keteduhan, kedamaian hati dan waktu untuk rileks. Mereka mendapati tempat yang paling pas.

Daun-daun yang beterbangan sesuai tiupan angin tetap menyampaikan pesan baik ke manapun angin membawanya. Sebelum akhirnya jatuh, kering dan hilang menjadi debu dan tanah. Tak terkira ucap syukur terucap dari segenap pori jiwa.

Terima kasih Tuhan, Kau telah memperbolehkan kami menjadi pohon hidup yang semakin rindang, sejuk, dan siap mengorbankan setiap bagian pohon untuk kebaikan. Pohon kami tetap hidup bukan hanya karena bagian-bagian dari kami saling merangkul erat dalam suka dan duka. Bukan pula semata karena belitan persahabatan dan persaudaraan tulus. Pohon kami akan tetap ada karena sentuhan, sapaan dan tatapan penuh kasih dari orang-orang yang lewat, mampir dan bernaung di bawah rindangnya. Juga doa yang didaraskan walau dari jauh. Pohon kami tetap mengukir sejarah perjalanan hidup dan kenangan akan bagian-bagian yang telah tiada melalui guratan, lekukan dan keperkasaan cabang dan batangnya. Pohon tetap mencoba bertahan karena percaya bahwa matahari tetap setia membawa harapan baru. Angin tetap membawa kesejukan tak pernah henti. Turunnya hujan akan membersihkan daun-daun dan ranting dari tebalnya debu akibat polusi yang menyelimuti. Sisa embun pagi hari membersitkan gemilau sinar. Dinamika alam membuat pohon tidak pernah kehabisan sumber kehidupannya. Kami bersimpuh sambil mengucap Terima kasih Tuhan.

 15 Agustus 2009

Yuniko Deviana – Cancer Information & Support Center

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Terima kasih kawan…..tulisannya begitu menyentuh….
    Saya merasakan, saya memiliki dua kaki, dan kaki sebelah saya adalah CISC. CISC memberikan pelajaran kehidupan dengan literatur yang sangat lengkap dan penuh warna. Ini hikmah yang begitu besar yang saya temui dalam perjalanan hidup saya.
    Terima kasih Tuhan, terima kasih kawan-kawanku di CISC, terima kasih Mba Yuniko…..saya meyakini bahwa CISC akan terus menjadi pohon kehidupan untuk semua orang. Support Group yang konsisten dan TERBAIK yang ada dan terus tumbuh dan berkembang….siapapun boleh memilikinya untuk tujuan yang mulia….amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: