**Jangan Lagi Ada Penyesalan**

August 20, 2009 at 9:14 am | Posted in O P I N I | 1 Comment

coping directionKanker. Satu kata yang mampu mengguncang kehidupan keluarga. Semula keluarga adem ayem, penuh tawa dan sesekali konflik. Ditemukannya kanker di keluarga membuat suasana berubah serius, penuh kehati-hatian dalam bertutur dan bersikap, dan keceriaan alami berkurang. Perlu waktu agar semua kembali seperti semula. Mungkin berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Seorang sahabat membagikan resep jitunya dalam mendampingi isteri mengarungi pergulatan melawan kanker. ”Ada dua kata penting yang kujadikan pegangan yaitu ayo dan iya” katanya. ”Aku memilih mengiyakan apapun yang diinginkannya dan siap mendukung tindakan apapun yang dipilihnya.” Tentu tidak sesederhana itu. Karena belum tentu semua keinginan dan pilihan penyintas kanker dapat di ’iya”kan dan di”ayo”kan. Namun suami memiliki berjuta cara agar dapat mempengaruhi keinginan dan pilihan tanpa kesan penolakan.

Seorang wanita setengah baya tidak pernah merasa lelah dan bosan mendampingi suami tercintanya menjalani terapi kanker di Jakarta. Berangkat dari kampung 6 bulan yang lalu dan memperkirakan akan tinggal paling lama 1 bulan saja untuk pengobatan. Kenyataan berbicara lain. Enam bulan masih belum cukup untuk menuntaskan upaya berobat. Rindu akan anak-anak, pekerjaan dan rumah dikalahkan demi suami. Karena ia tahu pasti kelelahan, ketidaknyamanan dan pengorbanan pasangan hidupnya jauh lebih besar. Setia, itulah kata kunci yang di yakini ibu tersebut. Semangat kesetiaan juga yang selalu ia coba ajarkan dan berikan contoh ke pada anak-anaknya setiap kali mereka menelepon bertanya kabar dan kapan pulang ke rumah.

”Aku manusia biasa,” ucap seorang sahabat lirih. ”Ku menangis, sedih, capai, terkadang putus asa, dan merasa tak dihargai. Terkadang aku memiliki keinginan dan nafsu tak terkendali lain. Namun, ku memilih untuk meredamnya sekuat tenaga, menyembunyikannya di tempat terdalam dan hanya memuntahkannya ketika sendiri,” lanjutnya. ”Karena aku tak ingin mengecewakan dan menyakiti hatinya dengan sikap dan ucapanku yang tidak pantas.” Itu tetap dijaganya bukan saja pada saat mendampingi terapi, tetapi tetap bertahun-tahun kemudian tatkala akhirnya kanker kembali menghampiri dan mengantarnya ke garis akhir. Ia menangis, tapi bukan tangis penyesalan karena ia telah melakukan yang terbaik.

Ternyata, peran pasangan hidup sangatlah penting. Kesabaran, kesetiaan, kekuatan menjadi penopang, fleksibilitas, daya juang, menjadi motivator pemompa semangat, menjadi pembujuk tangguh yang memiliki kemauan memahami dan berbagai keunggulan lain mutlak diperlukan. Haturkan semua itu dengan iklas, maka yakinlah bahwa Tuhan tidak akan diam untuk kelancaran pengobatan, kedamaian batin, dan ketiadaan penyesalan nantinya.

Jakarta, 20 Agustus 2009

Yuniko Deviana

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Saya merasakan, betapa berraaaattttnya beban psikologis orang-orang yang ada di sekitar kita. Mereka sungguh luar biasa….terima kasih yang amat sangat untuk suamiku tercinta Iwan, dan anakku yang sangat jauh dewasa dari usianya Awan, atas segala yang telah kalian lakukan untuk seorang isteri dan ibu. Saya yakin Tuhan akan membalas kebaikan kalian, amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: