Dokter, Maukah Kau Menjadi Sahabatku?

June 23, 2011 at 2:38 pm | Posted in KIRIM ARTIKEL | 2 Comments

Jam berdentang 11 kali. Lima orang pasien masih menunggu giliran masuk ke ruang dokter. Seorang wanita berusia 30 tahunan duduk setengah rebahan di pojok ruangan, mata menatap kosong ke depan dengan tubuh lunglai. Di sebelahnya, duduk lesu seorang ibu yang sepertinya adalah ibu wanita tadi. Sepi, tak ada percakapan di antara mereka. Kebosanan menanti sangat terasa di ruangan itu. Tiga puluh lima menit sudah beranjak sejak pasien terakhir masuk ke ruangan dokter dan hingga kini belum ada tanda tanda kapan akan keluar. Ketika akhirnya pintu di buka, wajah pasien dan keluarga yang keluar ruangan dokter terlihat bahagia dan puas.
Dokter adalah orang pandai. Tak ada yang meragukannya. Dokter adalah profesi terhormat sarat layanan kemanusiaan. Siapa yang berani mendebatnya? Tak ada. Bahwa dokter adalah manusia biasa yang bisa berbuat salah di balik keahlian dan kepandaiannya, pasti banyak orang sangat memahaminya.
Sesekali, dokter bisa apatis, tidak mau tau dan tidak sabaran bahkan menjadi pemarah akibat rasa lelah, bosan, gamang dan kecewa. Itu juga sangat manusiawi. Ketika seorang dokter bertindak dan bersikap dengan balutan emosi yang pantas, maka ia akan menjadi dambaan pasien.
Pasien dan keluarga yang baik, santun dengan tujuan final kesembuhan dan perbaikan kualitas hidup akan dapat memahami keunikan dari dokter yang menangani. Perbedaan dalam gaya sosial dan kepribadian dokter dapat menjadi sangat indah ketika pasien dan keluarga memiliki respek dan kemampuan untuk memahami. Sangat wajar jika ada dokter yang sabar dan ada yang temperamental. Sebagian lembut tutur katanya dan ada yang ceplas ceplos dalam berujar. Tidaklah mengherankan bagi pasien dan keluarga ketika ada dokter yang pandai merangkai kata dan di lain tempat ada dokter yang lebih hemat dalam berkata-kata. Ketika ketulusan merawat, mengobati dan menyembuhkan pasien berpendar dari dalam diri sang dokter dibalut kasih dan empati kemanusiaan – maka segala kelemahan dan keterbatasan menjadi luluh. Kalah oleh indahnya kasih yang tulus seorang dokter berbaju putih.
Aku merasa sangat tersentuh ketika seorang sahabat wanita yang sekarang telah tiada bercerita dengan haru. “Mbak, tadi malam dokter ku yang tersayang, Dr. Xxxxxxxxxx (dokter wanita lho) tertidur sambil duduk di samping tempat tidurku seusai memeriksaku. Ia capai sekali kelihatannya”. Sahabatku melanjutkan: “Ia dokter yang luar biasa. Dokter spesialis onkologi, tidak sombong, penuh cinta di setiap perilaku dan perkataannya. Tulus dan tidak di buat-buat. Aku hanya bisa memanjatkan syukur padaNya yang telah mengirimkan padaku seorang dokter sahabat pasien.” Aku masih bisa melihat lelehan airmata mengalir pelan melewati keriput di pipinya. Aku tahu itu adalah airmata haru sarat kebahagiaan dari seorang pasien yang sudah tak berdaya.
Sahabat mampu menenangkan. Dokter yang berperan sebagai sahabat pasien adalah orang yang sangat dipercaya pasien. Kalimat sejuk menenangkan dari dokternya bisa jadi lebih ampuh daripada pil penenang manapun. Ketika dokter bisa mengatakan apa yang harus dikatakan dan diketahui pasien pada waktu yang tepat, mampu menyimpan yang harus diutarakan lain waktu atau ke orang lain, bukankah itu adalah ciri dokter yang luar biasa? Terkadang, pasien menginginkan dokter menjadi seorang “paranormal” yang mampu membaca pikirannya. Yang tahu kapan saat yang tepat memberitahu dan mengarahkan pasien, kapan harus menenangkan pasien, kapan perlu berdebat dengan pasien, kapan perlu mengedukasi pasien dan kapan perlu memarahi pasien.
Tak jarang pasien akan kecewa ketika dokter yang sangat dihormati dan dipercayai memperlihatkan kesombongan, ketidakpedulian dan kecerobohan berulang-ulang dalam ujar dan sikap tubuhnya. Ketika pasien siap menerima informasi terjujur dan terlengkap tentang sakit dan terapinya, berilah yang ia butuhkan. “Mendengarkan” bahasa tubuh pasien sama pentingnya dengan mendengar pesan verbal yang terlontar. Ketika kedua hal itu kontradiktif, dokter sahabat pasien tahu apa yang perlu didahulukan.
Sahabat adalah orang yang siap menjadi tempat mengadu, meminta nasihat dan mendapatkan kenyamanan. Sahabat yang baik menghargai privasi sahabatnya. Bagi dokter yang super duper sibuk dan masih membutuhkan privasi untuk dirinya sendiri, masih bisakah dokter menjadi sahabat pasien? 24 jam putaran waktu sehari masih kurang bagi sebagian orang yang sibuk. Memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan bijak membuat pemanfaatan waktu menjadi maksimal. Ketika pasien atau keluarga menjunjung respek yang tinggi pada dokternya, maka mereka akan mengganggu dokter dengan berbagai keluhan dan pertanyaan melalui ponsel hanya pada kondisi yang benar-benar penting. Beberapa kesepakatan bisa diatur. Kesepakatan untuk berkomunikasi hanya melalui sms dan jika dalam 3 sms atau dalam waktu 15 menit tidak mendapatkan balasan, pasien dipersilakan menghubungi dokter lain atau UGD, maka pasien akan banyak terbantu. Pengaturan perangkat telekomunikasi canggih yang ‘user friendly’ sangat mungkin dilakukan dengan mudah. Contoh pesan-pesan berikut di perangkat telekomunikasi rasanya cukup memuaskan pasien dan keluarga. “Maaf saya sedang berada di luar kota dan bisa dihubungi setelah tanggal xxxxx”. “Sorry, I’ll be available by 07.00 this evening”. “Saya sedang cuti dan sulit sekali dihubungi, untuk emergency silakan hubungi UGD rumah sakit XXX di no. xxxxx”.
Pada dasarnya pasien dan keluarga sangat menghargai dokter dengan penuh hormat dan respek. Juga berterima kasih karena dokter akan membereskan beberapa masalah medis yang ada di tubuh pasien. Pada dokterlah pasien menggantungkan harapan. Terkadang pasien atau keluarga, karena keawamannya dalam keilmuan medis dan latar belakang berbeda, menjadi ‘gagap’ dalam bersikap dan bertindak di hadapan dokter. Takut salah berucap membuat pasien takut bertanya. Ingin terlihat tenang namun awam tentang medis menimbulkan kesan pasien sok tahu dan ‘ngetes’ dokternya. Ketidakpandaian memilih kata dan intonasi yang pas membuat pasien terkesan angkuh dan meremehkan kepandaian dokternya. Pasien dan keluarga sangat mengharapkan kesabaran dan pengertian dokter akan kebodohan, kelancangan, ketidak-sopanan dan ketidakmengertian mereka yang mungkin sangat konyol bagi dokter.
Hubungan dokter-pasien tidak sekedar relasi transaksional ekonomi semata. Dimensi kemanusiaan sangat kental mewarnai proses diagnosa, anamnesa, dan pengobatan. Aspek psikososialpun turut menyertai. Keterkaitan berbagai aspek yang secara bersamaan bisa memberikan dampak signifikan terhadap proses pengobatan membutuhkan kerjasama erat antara pasien, keluarga, dan dokter beserta tim. Relasi berbasis cinta tulus sesama insan Allah layaknya sahabat akan menciptakan suasana nyaman, saling percaya, dan saling menghargai martabat satu sama lain dengan pas. Indah sekali. Yakinlah bahwa ada banyak dokter teladan sahabat pasien di negara kita ini. Merekalah pahlawan medis yang mengawal dan menghargai harkat hidup manusia melewati kelahiran, labirin gelap sakit dan derita, hingga menit-menit meregang ajal dan akhirnya pulang dengan seulas senyum damai penuh keiklasan.

Slipi, Maret 2011
Yuniko Deviana
Cancer Information & Support Center (CISC)

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. hai Mba Yuniko, i luv u’r post!!
    aku juga sangat beruntung , dokter ku baik sekali kapan saja aku telp atau sms beliau pasti langsung balas,padahal dia dokter senior lho yg sibuk berat pastinya, Memang bagi kami, penderita kanker, perhatian dan kasih sayang dari orang2 terdekat itu sangat berharga,dan saat kita divonis kanker stadium 3 atau lebih ,kita akan lebih sering berhubungan dengan dokter kita dibanding dengan saudara sekalipun ( klo saya sih gitu).
    Dan untuk para dokter yg telah dengan sabar dan lembut memperlakukan kami seperti seorang sahabat ,,,,,,God bless u all !
    Salam,
    Asty

    • hi, Asti,

      Banyak hal pasti menjadi lebih mudah yha… Cheers

      YD


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: