Yuk gabung bersama komunitas kanker

September 12, 2008 at 7:16 am | Posted in Berita CISC | 5 Comments

IMG-20170306-WA0010

CISC ADALAH KELUARGA KEDUA BAGIKU!!!

September 10, 2008 at 1:04 pm | Posted in Sharing On-line Sahabat CISC | 1 Comment

CISC ADALAH KELUARGA KEDUA BAGIKU!!!

 

Malam Tahun Baru 1 Januari 2005, setelah kami kumpul-kumpul di Acara Tahun Baru bersama keluarga di rumah orang tuaku di Cirebon, lewat tengah malam aku tidur bersama sama saudara-saudaraku. Menjelang tidur, aku bercerita pada kakak iparku mengenai benjolan yang ada di payudara kananku. Beliau menyarankan untuk secepatnya memeriksakan diri ke Yayasan Kanker Indonesia (YKI)

 

Setelah aku mendapatkan informasi tentang YKI, tanggal 3 Januari 2005 sebelum berangkat kerja aku memberanikan diri dan kusempatkan mampir ke YKI. Perasaanku masih biasa saja, santai tanpa ada rasa takut. Dokter di YKI mulai memeriksaku dan menyarankanku untuk menjalani pemeriksaan mammografi dan USG.

Tanpa pikir panjang dan kebetulan juga saat itu aku sedang membawa uang, aku menjalani mammografi dan USG. Karena penasaran akan hasilnya, aku menunggu hasilnya yang selesai tidak lama kemudian. Dokter radiology berkomentar hasilnya mencurigakan benjolan adalah tumor ganas. Aku mulai was-was. Dokter menyarankan untuk berkonsultasi dengan Dokter ahli tumor dan serba kebetulan hari itu dokter ahli tumor akan datang. Dengan sabar dan perasaan yang nggak karuan, aku menunggu dokter tersebut (adalah dr Ramadhan yang menjadi dokter onkoku yang sabar dan  baik hati sampai saat ini).

 

Jam 14.00 Dr Ramadhan datang. Aku masuk ke ruangannya tapi sayang beliau tidak banyak menjelaskan tentang penyakitku mungkin karena aku datang sendiri tanpa suami. Dokter menyuruhku untuk datang lagi besoknya di RS Dharmais bersama suamiku.

 

Tanggal 4 Januari 2005 aku bersama suamiku datang ke RSKD. Dokter menjelaskan panjang lebar tentang tumor yang dicurigai ganas, tentang sifat dan jenisnya, tentang protokol terapinya dan sebagainya. Aku disarankan untuk segera operasi, dan suamiku juga setuju.

Segera aku mengurus administrasi, tapi begitu aku tanyakan tentang beayanya . . …… aku & suamiku jadi bingung, dari mana uang sebanyak itu.

Suamiku bukan pegawai tetap, dan aku sendiri bekerja pada perusahaan swasta bukan pegawai negeri yang bisa dicover asuransi.

Akhirnya kucoba menghadap atasanku di kantor. Alhamdulilah beliau sangat mendukung rencana operasiku dan memberiku pinjaman dana untuk beaya operasi. Terimakasih Tuhan, di saat Engkau berikan cobaan Engkau berikan kami kemudahan.

 

Tanggal 10 Januari 2005, setelah beberapa hari menjalani pemeriksaan kesehatan untuk persiapan operasi, jam 08.00 aku masuk ruang operasi. Dokter mengambil jaringan untuk di PA (sayat beku istilahnya), kalau hasilnya ganas langsung dilakukan pengangkatan payudara kananku (mastektomi),dan ternyata hasilnya positif kanker.

Satu minggu aku menjalani perawatan di RS dan 1 minggu kemudian aku harus kembali kontrol.

 

 

 

 

Kembali kontrol, dokter menyuruhku untuk segera menjalani kemoterapi. Apa itu kemoterapi, aku nggak ngerti sama sekali dan dokter tidak menjelaskan. Mungkin dokter berpikir aku sudah tahu karena aku tidak bertanya padahal aku diam karena aku tidak tahu apa yang harus kutahu…. Ha..ha..ha lucu juga kaya waktu sekolah dulu, kalau guru tanya murid diam saja, bukannya dah tahu tapi ga tahu apa yang harus ditanyakan.

 

Aku cari-cari informasi, lagi-lagi Tuhan tunjukkan jalan kepadaku. Aku dapat informasi, ada perkumpulan pasien-pasien kanker dalam suatu wadah organisasi namanya CISC yang secara rutin mengadakan pertemuan Support Group (SG) 2 x setiap bulannya.  Kebetulan CISC  saat itu mengadakan seminar tentang kemoterapi. Dengan semangat yang berapi-api aku berusaha untuk hadir. Dari pertemuan itu kuperoleh informasi yang sangat jelas dan ditambah lagi aku mendapatkan support dan empati dari teman-teman yang walaupun baru kukenal tapi rasanya mereka sudah mengenalku lama. Dengan begitu aku menjadi lebih bersemangat untuk segera menjalani kemoterapi walaupun katanya efek kemoterapi itu   tidak nyaman. (e……. betul juga untung aku ikut pertemuan CISC itu jadi aku dah ga kaget lagi)  

 

Satu setengah bulan setelah operasi aku ditangani oleh Dr Chospiadi Irawan untuk menjalani kemoterapi dengan FAC 6X.

Mual, pusing, tidak nafsu makan, diare… pokoknya nano-nano semua kurasakan dan Alhamdulilah semua bisa kujalani dengan lancar sampai selesai 6 x kemo. Berikutnya aku mendapatkan terapi hormon (tamoxifen) supaya menstruasiku terhambat/berhenti, sambil setiap bulan aku harus kontrol ke dokter. Ternyata beberapa bulan setelah aku minum tamox, mens tetap rutin datang setiap bulan.

Oh ya.. untuk menghentikan mens dokter memberikan beberapa alternatif, a.l. angkat ovary(histerextomy) atau sinar ovary atau menggunakan zoladex, karena usiaku masih tergolong muda (40thn) akhirnya dicoba dulu aku diberi suntik zoladex sebulan sekali selama 14x dan hasilnya aku menopause dini.

 

Januari 2006 (1 tahun pasca operasi),  dokter menganjurkan check up keseluruhan.

Waktu itu aku ditemani mbak Sri membawa hasil rontgenku. Dari hasil rontgen  terlihat bahwakanker itu sudah merambah ke paru-paruku. Dokter memintaku lagi untuk menjalani kemoterapi dan beliau mengatakan bahwa karena hasil PA ternyata aku Her2+, disarankan aku memakai herceptin, yang katanya jenis obat kemo yang paling efektif untuk kanker payudara dengan Her2+. tapi jangan tanya…. tidak mungkin aku mampu membelimya. Aku tidak bisa berkata apa-apa, untung ada mbak sri yang menemani  dan mengusulkan pada dokter bagaimana kalau dicoba dengan obat yang lain dulu, toh herceptinpun tidak menjamin 100%.   Siapa tahu dengan keikhlasan menjalaninya Tuhan memberi mujizat. Akhirnya Dokter menyetujui aku menjalani kemoterapi dengan CMF.  Atas dukungan suami, anak-anak dan keluargaku dan semangat yang diberikan teman-temanku CISC yang tidak henti-hentinya mensupport dan menemaniku, kujalani paket kemoterapiku yang kedua dengan lancar (walaupun tetap saja efek kemo yang serasa meremukkan ragaku dengan setia menyertaiku).

 

Selesai paket kemo yang kedua aku kontrol lagi lengkap dengan rontgen paru. Alhamdulilah  dinyatakan sudah bersih, betapa senang hatiku … Aku datang ke SG CISC yang waktunya bertepatan dengan waktu aku kontrol ke dokter. Tidak tahan untuk segera menceritakan hasil terapiku yang sukses. Teman-teman CISC semua terharu memelukku dengan erat, kami menangis tapi tangis bahagia.  Aku semakin yakin Tuhan sangat menyayangiku. Di saat aku kebingungan Dia berkenan membawa aku masuk dalam kelompok supporting group seperti ini. Mereka semua menyayangiku sebagaimana keluarga.

 

Pasca terapi, hari-hariku kuisi dengan tetap bekerja di kantor. Di saat-saat luang aku semakin rajin datang ke acara-acara CISC, kuberikan support dan pengalamanku pada pasien-pasien kanker yang masih baru. Ceritanya aku sudah jadi senior kanker…. Hahaha. Aku juga sudah ikut TOT penyuluh kanker yang diadakan POI dan aku rajin hadir dalam acara-acara seminar kanker  kalau kebetulan hari libur kantor. Yang pasti rasanya rugi kalau aku tidak datang di pertemuan SG CISC setiap 2 minggu sekali. (sampai saat ini, ditemani anakku aku masih selalu rajin datang SG lho, dengan hadir di SG aku termotivasi melihat teman survivor lainnya, aku harus bisa seperti mereka dan kalau pulang pak Benny atau teman yang lain selalu rajin mengantarku sampai terminal busway, terimakasih ya Pak)

 

April 2007, jadwalku kembali kontrol keseluruhan lagi.

Seandainya pantas, saat itu aku akan berteriak atau kurobohkan dinding di depanku untuk menyalurkan kesedihanku.

Tamu yang datang tak diundang menyelinap diam-diam kembali lagi menyeringai di paru-paruku dengan ukuran lebih besar +-4 cm, padahal 6 bulan sebelumnya paru-paruku dinyatakan bersih. (apakah mungkin salah diagnosa waktu itu ?)

Dokter memberi lagi aku kemoterapi (taxotere + carboplatin) sebanyak 6X, lagi-lagi aku masuk episode neraka (istilah mbak Yeye) yang kujalani dan nikmati saja. Karena kemo kali ini adalah paket kemo ketiga maka jam terbang kemoku dah tinggi, dan Alhamdulilah Tuhan selalu memberi aku kemudahan-kemudahan di dalam cobaanNya. Semua biaya terapiku bisa dimasukkan dalam JPS, teman-teman CISC selalu datang silih berganti mensupportku baik di rumah maupun di RS waktu aku dikemo. Keluargaku sangat menjaga dan menyayangiku.

 

Rencananya, setelah 6X kemo (selesai Agustus 2007) karena tumornya mengecil +_3cm dokter akan menambah kemo 2 X lagi.

Bulan September 2007, belum sempat kemo tambahan aku jalani, tiba-tiba kepalaku sakiiiit tak tertahankan. Kucoba makan obat sakit kepala tapi tetap tidak ada hasilnya malah tambah sakit. Kebetulan waktu itu libur hari Raya Idul Fitri.

Seminggu setelah Hari Raya aku datang ke RSKD untuk periksa. Dokter menyarankan untuk ct scan kepala. Ternyata hasilnya tidak menggembirakan. Kanker itu telah nongkrong lagi di otak kanan kepalaku dan untuk itu aku disuruh menjalani terapi dengan sinar kepala sebanyak 10X setiap hari. Otomatis aku cuti dari bekerja selama penyinaran supaya aku cukup istirahat. Alhamdulilah sampai sekarang tidak ada lagi keluhan di kepalaku.

 

 

 

Setelah selesai sinar, aku masuk kembali bekerja. Alhamdulilah perusahaan tempatku bekerja sangat toleran dan mendukungku. Aku tinggal di daerah Depok dan kantorku jauh di daerah kota sehingga setiap hari aku naik kereta. Suatu hari saat aku harus turun, tiba-tiba kakiku tidak bisa melangkah. Aku panik dan ditolong seseorang untuk turun dan diantar ke klinik stasiun (terimakasih pada yang sudah menolongku). Dari klinik aku minta tolong menelepon teman kantorku untuk datang dan langsung mengantarku ke RSKD.

 

Di RSKD aku langsung diperiksa dan di roentgen kaki kananku. Astaqfirullah ….. lagi-lagi kanker itu ada menyelinap di tulang lutut dan kaki kananku bagian bawah. Aku menjalani lagi terapi sinar 10X di kedua bagian kakiku, otomatis aku tidak bisa jalan dengan kedua kakiku. Ayahku yang sudah sepuh datang menemaniku selama aku menjalani radioterapi, mendorong kursi rodaku. Tidak terbayangkan olehku kenapa justru orang tuaku yang mendorong kursiku bukan sebaliknya akulah seharusnya yang merawatnya. Terimakasih Tuhan telah Kau berikan aku keluarga dan teman-teman yang menyayangiku.

 

Hampir 3 bulan aku memakai kursi roda, dan Alhamdulilah berkat banyak doa dari teman-teman, tetangga dan keluargaku dan ditambah terapi kemo lagi setiap minggu sebanyak 13 X untuk paruku yang masih bermasalah yang kujalani dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, pelan-pelan sekarang aku bisa kembali berjalan lagi walaupun agak pincang.

Kupenuhi disetiap tarikan nafasku dengan rasa syukur pada Allah SWT yang telah memberikan Rachmat dan BerkahNya kepadaku, sehingga aku bisa menjalani semua ini, dan kumohon Ya Allah berilah aku kesempatan dan kekuatan untuk mendampingi dan mengantarkan anak-anakku menjadi dewasa.

Terimakasihku yang sangat dalam kepada suamiku dan orangtuaku yang selama ini dengan sabar menemani aku dalam menjalani terapi, anak-anakku yang sangat mengerti, adik-adik & seluruh keluarga, teman-temanku CISC yang tidak putus-putusnya memberiku semangat dan memotivasiku untuk tetap tegar dan juga bantuannya untukku, perusahaan tempat aku bekerja juga telah sangat membantuku. RSKD beserta Dr & paramedisnya yang telah merawatku, terutama Dr Ramadhan & Dr Chospiadi Irawan yang telah banyak membantu mengusahakan untuk bisa mengobatiku.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan-kebaikan kalian semua.

Amin Ya Robballalamin.

 

Jakarta, 13 Juni 2008

 

Sutinah

MORE ABOUT CISC

March 11, 2008 at 8:18 am | Posted in Berita CISC | 5 Comments
Tags:

LATAR BELAKANG
Berawal dari pembicaraan santai beberapa orang penderita berbagai jenis kanker, terlontar pemikiran untuk membentuk wadah yang dapat memberikan manfaat bagi “masyarakat kanker” terutama dalam pemberian informasi yang benar dan dukungan psikis dan sosial. Ide diolah dan diendapkan lagi dengan membentuk jaringan lebih luas melibatkan beberapa dokter yang berkecimpung di bidang kanker, lebih banyak penderita, keluarga dan mereka yang peduli akan kanker.Pada bulan April 2003, dengan sangat sederhana  dalam rapat yang dihadiri belasan orang CISC dibentuk. Tahun demi tahun beranjak. Namun kami di CISC tahu bahwa angka 5 dari tahun kelima yang kami jelang saat ini berawal dari angka satu, yaitu masa-masa awal pembentukan dan langkah pertama yang tertatih. Peran Dr. Samuel J. Haryono SpB Onk.(K) dan Dr. Sutjahyo Endardjo Sp. PA sangatlah besar dalam memetakan kondisi yang ada dan membuat kami di CISC mampu meyakini pola yang paling pas untuk kiprah CISC bagi komunitas kanker dan masyarakat Indonesia. CISC tidak dibangun oleh hanya satu, dua, atau tiga orang. Ingatan kami menerawang pada saat awal pembentukan dengan semangat yang menggelora kami ingin segera mewujudkan mimpi-mimpi kami. Ada Bapak Frans, saudara Ari, Ibu Dani, Ibu Sri Suharti, Ibu Sri Nora, Ibu Adeetje dan beberapa orang lagi yang memungkinkan CISC lahir dan secara pelan namun pasti terus tumbuh dan berkembang. Beberapa dari mereka boleh telah tiada, namun jejak mereka telah memperkuat pondasi CISC sehingga tetap eksis dan terus berkembang dari waktu ke waktu.CISC dahulu, sekarang dan nanti adalah CISC yang selalu dinamis yang tidak akan pernah melupakan jejak dan kiprah pendahulunya, dan terus membuka diri untuk menerima siapa saja dan berupaya menjadikannya “second home” bagi orang orang yang membutuhkan.CISC meyakini bahwa semua anggota memberikan andil bagi tetap berdenyutnya kegiatan pelayanan CISC. Sehingga, tak pernah terlupa bahwa CISC adalah milik semua orang yang bernaung di dalamnya.

Beberapa Kegiatan yang Telah Terlaksana, antara lain:
1. Sejak 2003, sesi support group 2 x sebulan telah rutin dilaksanakan, dengan berbagai topik berbeda
2. Pendampingan bagi orang sakit kanker dan keluarganya baik di RS maupun di rumah.
3. Penyediaan informasi dan pendampingan melalui telepon ke berbagai pihak yang membutuhkan.
4. Beberapa kegiatan rekreasi, olahraga dan relaksasi bagi anggota.
5. Menyelenggarakan beberapa seminar kanker untuk masyarakat dan penyuluhan kanker ke perusahaan-perusahaan, kelompok pengajian dan kelompok agama lain, PKK, arisan, dharma wanita dll. Misal: Bank Indonesia, Vico Indonesia, Unocal/Chevron Ind., Bank Danamon, Dept. Perindustrian, Dharma Wanita dinas pendidikan di Jakarta Utara, Gereja-gereja, mesjid, dll.
5. Pembekalan bagi survivor dan relawan yang akan mendampingi pasien kanker dan keluarganya.
6. Pembekalan sebagai penyuluh kanker berupa 3 angkatan Training of Trainers yang diberikan oleh Perhimpunan Onkologi Indonesia Pusat.
7. Mengisi acara patient gathering sebagai nara sumber maupun facilitator di berbagai rumah sakit seperti RS Kanker Dharmais, RS Cipto Mangunkusumo, RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, RS Persahabatan.
8. Mengadakan acara tahunan Cancer Survivors Gathering

Keanggotaan CISC bersifat:
* Sukarela
* Terbuka
* Heterogen: untuk semua jenis kanker dan latar belakang yang berbeda beda (suku, ras, agama, gender, usia, pendidikan, dll)
* Individual yaitu penderita, survivor, keluarga dan yang peduli
* Independen

Untuk pencapaian visi misi, CISC terbuka dan telah bergandengan tangan dengan:
* Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI)
* Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD)
* Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)
* Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP)
* Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading
* Yayasan Kanker Indonesia (YKI)
* Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ)
* Masyarakat Peduli Limfoma Indonesia (MPLI)
* Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI)
* Pita Kuning, dan lain-lain

CISC Special Event

March 8, 2017 at 11:04 am | Posted in AGENDA KEGIATAN | 3 Comments

Dear all cancer survivors and others who care, let’s meet up and gather…IMG-20170306-WA0010

November Bulan Peduli Kanker Paru Sedunia

November 13, 2016 at 2:27 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Foto pita putih ke abu-abu an ini saya dapatkan dari sahabat saya mbak Ester Sutiono, Humas CISC/Cancer Information and Support Center, Ternyata dunia mendedikasikan bulan November  sebagai bulan p…

Source: November Bulan Peduli Kanker Paru Sedunia

Dancing with Cancer

September 7, 2015 at 10:35 pm | Posted in Uncategorized | 3 Comments

IMG-20150901-WA0012

IMG-20150825-WA0000Kanker ternyata tidak harus membatasi gerak kegiatan seseorang. Di CISC para survivor penari dan penggemar tari terus menari… Katanya, “menari membangkitkan semangat kami untuk mensyukuri hidup.”

Dengan tarian ceria dan kostum warna warni para penyintas kanker…sekali làgi ķita diingatkan…kanker bukanlàh akhir dunia.

Salam sehat CISC
yd

survgath13.jpg

March 28, 2013 at 10:15 am | Posted in Uncategorized | 2 Comments

WORKSHOP PALIATIF CARE Sabtu, 3 Nopember 2012 jam 09.00-15.00 di Auditorium RS Kanker Dharmais.

October 15, 2012 at 4:00 pm | Posted in Uncategorized | 5 Comments

Bagi teman2 CISC yang belum mendaftar silahkan segera mendaftar pada dewi 08881955999 atau yani- 021 78843060.
Mohon hadir 30 menit sebelumnya untuk coffee morning, karena acara akan dibuka oleh Ibu Ana Jokowidodo/Ibu Gubernur DKI Jakarta tepat jam 09.00
salam sehat CISC dan sampai jumpa.

October 15, 2012 at 3:53 pm | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Poster Workshop-01.jpg

Support Group kanker CISC bln Mei 2016

July 4, 2012 at 10:08 am | Posted in Uncategorized | 2 Comments

Sabtu, tanggal 14 Mei 2016 jam 10.00 – 13.00di Jln Imambonjol No. 51 Jakarta

Topik “Tampil Cantik selaras dengan Pola Makan Sehat saat/pasca terapi kanker”

dilanjutkan dengan demo make-up oleh Team dari Make Over Cosmetik.

Narasumber : dr Gracia Winaktu, MS., SpGK

** Laporan Pertanggungjawaban Rumah Singgah CISC 2011

March 19, 2012 at 9:13 am | Posted in 1 | 4 Comments

Selama tahun 2011, sebanyak 205 pasien kanker yang didampingi satu pendamping keluarga telah menggunakan rumah singgah CISC. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Rata-rata lama mereka tinggal di rumah singgah adalah 30 hari.

Published Lap keu 2011 rs konslidasi

published daft sumb 2011

published in-out 3 rmh singgah

Hadiri… 2012 Cancer Survivors Gathering

February 27, 2012 at 11:11 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hadiri... 2012 Cancer Survivors Gathering

A Friend In Need Is A Friend Indeed

August 22, 2011 at 11:55 am | Posted in KIRIM ARTIKEL | Leave a comment

by Deedra Miller

My daughter was diagnosed with cancer in September, 2004. There was such an outpouring of support and so many people wanted to help that, after a while, it actually became something of a problem. We didn’t want to hurt people’s feelings, but all we could think of was what was going on at the hospital. With the shock of the diagnosis and so much uncertainty about the future, we really didn’t know what we would need, but as time went by, and through much trial and error, we came up with a list of a few things that really helped us out.

 Play with our pets. We spent a lot of time at the hospital, and even when we were home, we were pre-occupied. We asked a neighbor to spend some time playing with our dogs and giving them attention.
 Pick up the mail.
 Decorate our house for the holidays. I did not have the time or the energy, but when I put out the boxes for different holidays, my friends came over and put the decorations up. Later they took them down and put them away. It really lifted our spirits to come home from the hospital and see our decorations up. At a time when we felt we were missing out on so much, this made us feel like we were still a part of the holiday seasons. On Halloween, we had pumpkins on our porch. On Valentine’s Day, there were hearts hanging from a tree.
 Deliver meals. One friend was the contact and she made a schedule and gave people food ideas (foods we liked, and not too many lasagnas in one month). We kept a cooler on the front porch so people could put the meals in it. This way we could keep germs out, and if we were busy or resting, we didn’t feel obligated to visit. There were markers on the cooler so people could sign it (or you could put a pen and pad inside for people to leave notes).
 Take care of our plants (inside and out). It’s no fun to see things dying.
 Remember the kids (siblings or children). People sent our son gift cards. This reminded him that others understood this had changed his life, too.
 Donate items. Friends brought those household items that are convenient to have on hand: laundry soap, paper towels, paper plates, disinfectant wipes, etc. Other thoughtful gifts included gas cards, restaurant cards and video rentals.
 Help with cleaning. Some people don’t want their friends to see their “dirty laundry,” so they turn down offers of help with housework. Several Sunday school classes at our church took turns hiring a maid service for us. We loved it!

It’s also important for friends and family to respect the wishes of the patient and his family when they say they don’t want certain types of help. Maybe they don’t know what they want. It doesn’t help when others put pressure on them to come up with something.
The patient and his family may feel like they’ve lost so much control that they don’t want others to do everything for them. They don’t want to feel like they’ve lost control of everything, so sometimes it’s best not to push them into coming up with ways for you to help.
It really helped us when someone offered to do one of the above because they were things that could be done without us having to sit there and feel incapable. It’s really hard to sit and watch others take care of you, and it can make you feel guilty. That’s not the point of helping. The point is to simply and quietly make the patient and his family’s life a little better.

Dear God, we are so blessed to have many friends and family members who want to help us during this difficult time, but sometimes their generosity and questions about what we need can give us even more to worry about. Remind those who care for us that taking care of simple chores and supplying everyday necessities can be the kindest gifts of all.
~Amen~

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.